Jumat, 20 Februari 2009

Sayyid Abdullah Bin Abbas (Ibnu Abbas)

Sayyid Abdullah bin Abbas (dikenal juga dengan nama Ibnu Abbas, 619 - Thaif, 687/68H) adalah seorang Sahabat Nabi, dan merupakan anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib, paman dari Rasulullah Muhammad SAW.

Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak hadits sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.
Keluarga

Dia merupakan anak dari keluarga yang kaya dari perdagangan bernama Abbas bin Abdul-Muththalib, maka dari itu dia dipanggil Ibnu Abbas, anak dari Abbas. Ibu dari Ibnu Abbas adalah Ummu al-Fadli Lubaba, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan hal yang sama dengan teman dekatnya Khadijah binti Khuwailid, istri Rasululah.[2].

Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari Muhammad merupakan anak dari orang yang sama, Syaibah bin Hâsyim, lebih dikenal dengan nama Abdul-Muththalib. Ayah orang itu adalah Hasyim bin Abdulmanaf, penerus dari Bani Hasyim klan dari Quraisy yang terkenal di Mekkah. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara bernama Fadl bin Abbas

Hadis Tentang Beliau

Ibnu Abbas pernah didekap Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW berkata, Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Qur'an.[3]

Ibnu Abbas pernah melihat Malaikat Jibril dalam dua kesempatan, Ibnu Abbas berkata:

Aku bersama bapakku di sisi Rasulullah dan di samping Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Maka seakan-akan beliau berpaling dari bapakku. Kemudian kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, Wahai anakku, tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu (Rasulullah) seperti berpaling (menghindari aku)? Maka aku menjawab, Wahai bapakku, sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Ibnu Abbas berkata, Kemudian kami kembali ke hadapan Rasulullah lantas bapakku berkata, Ya Rasulullah aku berkata kepada Abdullah seperti ini dan seperti itu, kemudian Abdullah menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di sampingmu yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar memang ada seseorang di sampingmu? Rasulullah balik bertanya, Apakah engkau melihatnya ya Abdullah? Kami menjawab, Ya. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihiwassalam. Dialah yang menyibukkan kami dari kamu sekalian.[4]

Abbas mengutus Ibnu Abbas kepada Rasulullah dalam suatu keperluan, dan Ibnu Abbas menjumpai Rasulullah bersama seorang laki-laki. Maka tatkala ia kembali dan tidak bicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, Engkau melihatnya ? Abdullah (Ibnu Abbas) menjawab, Ya, Rasulullah bersabda, Ia adalah Jibril. Iangatlah sesungguhnya ia tidak akan mati sehingga hilang pandangannya (buta) dan diberi (didatangkan ilmu).[5]
Beliau pernah di doakan Nabi dua kali, saat didekap beliau dan saat ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa, Ya Allah fahamkanlah (faqihkanlah) ia. (HR. Muslim)

Ibnu Abbas wafat pada tahun 78 hijriyah, dalam usia 75 tahun, diriwayat lain 81 tahun. Dari Ibnu Jubair menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.

Sayyid Ali bin Abdullah bin Abbas

Beliau dikenal dengan Imam Ali As-Sajad dilahirkan pada tanggal 24 Ramadhan 40 H di Basroh, ketika ayahnya menjadi penguasa di Basroh dari pihak khalifah Ali bin Abi Tholib Radiyallohu ‘anhum jamiian, sesudah ayahnya meninggal di Thaif Ali bin Abdullah pergi ke Hamimah sesuai wasiat ayahnya. Beliau tinggal di daerah Hamimah bersama anak-anaknya sampai berdirinya Daulah Abasiyah pada tahun 132 H. Beliau berpostur tinggi dan berbadan besar, orang-orang Quraisy memberikan tempat kepada beliau untuk bermajlis ta’lim di dalam Majidil Haram, mereka meninggalkan aktivitas ibadah dan kegiatan mereka untuk berkumpul menghadiri majlis ta’limnya Ali bin Abdullah sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada beliau. Tidak ada satupun orang Quraisy yang melakukan aktivitas dzikir apapun di Masjidil Haram sampai Ali bin Abdullah keluar dari Masjidil Haram .

Ali bin Abdullah mempunyai anak yaitu Muhammad (yang dikenal dengan Abu Ibrahim Al–Imam yang merupakan leluhur keluarga Bawazir – Abu al – Khulafaa yang memulai da’wah), Daud dan Isa, Sulaiman dan Sholeh, Isma’il, Abdussomad, Ya’kub, Abdullah Al-Akbar, ‘Ubaidillah, Abdulmuluk, Utsman, Abdurrahman dan seterusnya. Abdullah Al-Ashgar yang pergi ke Syam, sebagian orang menyebut Abdullah al-Ashgar dengan asy-Syamakh (orang yang bertubuh tinggi) ia juga mempunyai penerus. Yahya, Ishak, Ya’qub, Abdul Aziz, Ismail al-Asghar, Abdullah al – Ausath atau disebut juga Ahnaf, dst. Kemudian Aminah, Ummu Isa yang menikah dengan Ibnu Hasan bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas. Labbabah yang menikah Ibnu Qotsam bin Abbas bin Ubaidillah bin Abbas.

Ali bin Abdullah tinggal di Syarrah suatu wilayah bagi di daerah Damsyik, beliau selalu memakmurkan masjid dengan dan shalat sehari semalam 500 rakaat, tampat sujud beliau terbuat dari hamparan yang didatangkan dari zam-zam, beliau juga orang yang gemar menjamu musafir, sehingga setiap orang yang lewat dalam rangka pergi ke syam dari Hijaz atau sebaliknya beliau selalu menjamunya dan beliau juga menjadi penghubung bagi orang-orang yang membutuhkan sampai ada orang yang berkata :”Kesungguhnya pertolongan yang engkau berikan akan memulyakan dirimu”, sebagaimana tergambar dalam perkataan Saluli :

Apa yang patut kami berikan tatkala panasnya masalah kami
Di selesaikan oleh orang yang berhati mulya dan berbuat luhur
Maka diberitahu kami apa sangat beliau inginkan
Walau wajah kami akan rusak kamiakan berusaha

Suatu hari seroang wanita tua dari Quraisy menemui Ali bin Abdullah bin Abbas, lalu dia menceritakan permasalahan yang sedang ia hadapi maka Ali menyuruh pembantunya untuk memberi wanita tersebut 200 dinar, lalu ia berkata ”semoga Allah menjadikan aku tameng bagimu”, seperti apa yang dikatakan oleh Ummu Jamil binti Harb bin Ummayyah ;

Engkau adalah dari golongan terbaik
Baik di daerah desa atapun kota
Yang paling mulya tatkala banyak kesulitan
Bagi yang melakukan perjalanan dekat atau jauh
Benar belas kasih dan sangat dermawan
Memberikan apa yang dimiliki tanpa pamrih

Banyak orang mengatakan: sesudah Muslim bin ’Uqbah selesai dari perjalanan mengurus masalah yang ada di daerah Huroh. Rakyat memba’iat Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah dan mereka bersedia loyal kepada Yazid bin Muawiyah. Muslim bin ’Uqbah diutus menemui Ali bin Abdullah yang kala itu berada di Madinah. Hal itu terjadi 4 tahun menjelang meninggalnya ayah Ali yaitu Abdullah bin Abbas. Ketika sampai di barak tentara yang ada di daerah Fusthath, beliau melihat sekelompok tentara di depan pintunya kemudian Muslim bertanya tentang pemimpin kelompok itu dan dijawab bahwa pemimpin kelompok itu adalah Al-Hashin bin Namir as-Sukuni. Muslim itu berkata: ”sampaikan pada pimpinanmu akan kedatanganku”, lalu yang disuruh kembali dan berkata sesungguhnya anak saudara perempuanmu Ali bin Abdullah telah dipaksa keluar dari rumahnya (diculik) padahal beliau ingin bertemu dengan Muslimin bin ’Uqbah. Kemudian Muslim mengutus pasukan yang dipimpin oleh al-Hashin untuk membebaskan Ali bin Abdullah dari tangan para penculik. Ketika akan menyergap para penculik al-Hashin berkata: pukulah para penculik itu dengan cambuk! Maka dipukulah para penculik itu dengan cambuk sehingga mereka kabur. Al-Hashin berhasil membawa Ali bin Abdullah kehadapan Muslim bin ’Uqbah dan berbai’at kepada Yazid bin Mu’awiyah seperti bai’at kepada sultan.

Ali bin Abullah meninggal di Hamimah suatu daerah di wilayah Damsiq pada tahun 117 H dalam usia 78 tahun.

Sayyid Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas

Dikenal dengan Imam Muhamad al-Kamil yang memulai dakwah abasiyyah, ayah dari Ibrahim Al-Imam yang merupakan leluhur keturunan Bawazir. Pendahulu para Khalifah. Mempunyai kening bekas sujud dijuluki Abu Abdulloh, Ibunya Aliyah binti Ubaidillah bin Abbas. Muhammad bin Ali tumbuh dan besar di daerah Hina.

Imam Muhammad meninggal pada tahun 122 H dan di makamkan di samping makam ayahnya di daerah Hamimah. Dan menurut Waqidi : “Yang pasti Imam Muhammad meninggal tahun 125 H ketika berumur 70 tahun.

Muhammad bin Ali adalah seorang Tabi’in yang ‘alim dan zuhud. Ketika menjelang ajalnya ia berwasiat pada tahun 124 H, beliau berkata : “Janganlah melupakan aku setelah aku meninggal, aku merasa umurku hanya tinggal 2 tahun kedepan, dan sahabat kamu sekalian sesudahku adalah anakku Ibrahim, dan sesudah meninggalnya Ibrahim maka sahabatmu adalah Abdullah Ibnul Haritsah Assaffah, Imam Muhammad dari Ibrahim (Yang merupakan leluhur keturunan Bawazir) mempunyai anak Abdullah As-saffah, Abu Ja’far al-Mansur, Musa Ismail Yahya. Abbas adalah anaknya yang paling kecil, dia dilahirkan 2 tahun sebelum ayahnya meninggal. Dan Imam Muhammad mempunyai anak perempuan bernama “Aliyah, Labbabah dan Fatimah”.

Dan amirul mu’minin Mahdi dilahirkan pada tahun meninggalnya Muhammad bin Ali, Mahdi dinamai dengan nama Imam Muhammad, dan dijuluki Abu Abdulloh, Mahdi meninggal pada tahun 169 H dan dia berumur 43 tahun.

Mereka berkata-kata : orang-orang Syiah juga meriwayatkan Imam Muhammad bin Ali, mereka menyangka bahwa Imam Muhammad bin Ali adalah Ibnu Hanafiyyah, Ketika Ibnu Al-Hanafiyah meninggal mereka berkata : Sang Imam adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali. Ia adalah Abu Hasyim. Suatu ketika Abu Hasyim ingin pergi, ia menginginkan pergi ke Hijaz tapi kemudian berubah pikiran menjadi mengunjungi Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas di daerah Hamimah, Ia berwasiat kepada Muhammad bin Ali dan memberikan beberapa kitab serta mengumpulkan beberapa orang dari kaum Syiah seraya berkata, kita berharap sesungguhnya Imamah dan Amir dari kalangan kita, maka telah hilang keragu-raguan dan jelas keyakinan karena sesungguhnya anda adalah Imam dan Khalifah serta pada diri anak Anda, orang-orang pun mengamini perkataanya, mereka menetapkan kepemimpinannya dan kepemimpinan anaknya.

Muhammad bin Ali pernah berkata : seseorang tidak akan mencapai puncak kedewasaan sehingga dia dianggap orang yang hina, dan ia pun pernah berkata : Merupakan bagian dari kedewasaan, kamu berkata kemudian memahami, kamu bercerita kemudian mengambil kesimpulan.

Berkata Muhammad bin Ali : Tidak tercapai kedewasaan dengan hanya tumbuh kembang, tidak tercapai kecukupan dengan angan-angan, tidak pula ilmu dengan hanya pengakuan. Berkata pula Muhammad bin Ali : “Sejelek-jeleknya Ayah adalah yang memalingkan anaknya dari kebaikan kearah kesia-siaan, dan sejelek-jeleknya anak yang durhaka kepada orang tuanya”.

Muhammad bin Ali mengunjungi Madinah setiap tahun, dan bermukim satu atau dua bulan, ketika diberikan harta(hadiah) ia menolaknya. Disebutkan bahwa Muhammad bin Ali di daerah Hamimah mempunyai 500 pohon kurma, dan ia sholat di setiap bawah pohon kurmanya 2 rakaat.

[1] Dari buku „Sirah Nabawiyah“, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, penerjemah : Kathur Suhardi, pustaka Al-Kautsar, 2001
[2] http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html
[3] HR. Tirmidzi dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz X No. 40077.
[4] HR. Ahmad dalam Fathu Rabbani dan A-Thabrani dengan sanad shahih
[5] HR. Thabrani dengan sanad dan rijal kuat