Jumat, 20 Februari 2009

Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib

Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib (Arab: العباس بن عبد المطلب) (lahir 566 – wafat 653) adalah paman dan Sahabat dari Nabi Muhammad. Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama Bani Abbasiyah yang pernah berkuasa di Baghdad.

Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah
1. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.
2. Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.
3. Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.
4. Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand
5. Ma'bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Mekkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika


Fakta Penting


Ia menikah dengan Ummu al-Fadhl Lubab dan ayah dari Abdullah bin Abbas dan Fadl bin Abbas. Ia dilahirkan hanya beberapa tahun sebelum keponakannya Muhammad, dan merupakan saudara termuda ayahnya Muhammad.


Diriwayatkan oleh Imam Bukhori : Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlah hujan kepada, lalu turunlah hujan.

Ali r.a. bertanya:


"Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"Rasulullah menjawab:"Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga."


Umar bin Khattab awalnya mengingkari berita kematian Nabi itu, Utsman bin Affan pura-pura tuli sedang Ali bin Abi Thalib jatuh lemas. Dan sahabat yang lain menangis tertunduk lemah. Sungguh tidak ada yang lebih kuat menahan diri pada saat itu kecuali 'Abbas, paman Nabi dan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.


Sementara jasad beliau yang mulia masih tetap membujur di atas tempat tidur dengan diselubungi kain hitam. Pintu rumah ditutup dan hanya boleh dimasuki keluarga beliau. Pada hari Selasa para sanak keluarga memandikan jasad beliau tanpa melepaskan kain yang menyelubungi. Adapun yang memandikan adalah Al-Abbas, Ali, Al-Fadhl, Qatsam (keduanya anak Al-Abbas), Syaqran (pembantu Rasulullah), Usamah bin Zaid dan Aus bin Khaily. Al-Abbas, Al-Fadhl dan Qatsam bertugas membalik-balikkan jasad, Syaqran mengguyurkan air, Ali membersihkannya dan Aus mendekap jasad beliau di dadanya[1].


Peristiwa penting lainnya adalah ketika Abu Dzar segera menemui Rasulullah SAW, melihat ajarannya yang sejalan dengan sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia memproklamirkan keislamannya di depan Ka’bah, saat semua orang masih merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini menimbulkan amarah warga Mekkah. Ia pun dipukuli dan hampir saja terbunuh bila Abbas ra, paman Rasulullah SAW, tidak melerai dan mengingatkan warga Mekkah bahwa Abu Dzar adalah warga Ghiffar yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.


Sayyid Al Abbas dimakamkan di Pemakaman al-Baqi di Madinah.
Ummu Fadl diklaim sebagai wanita kedua yang memeluk Islam, pada hari yang sama dengan sahabatnya Khadijah.


[1] Dari buku „Sirah Nabawiyah“, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, penerjemah : Kathur Suhardi, pustaka Al-Kautsar, 2001
[2] http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html
[3] HR. Tirmidzi dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz X No. 40077.
[4] HR. Ahmad dalam Fathu Rabbani dan A-Thabrani dengan sanad shahih
[5] HR. Thabrani dengan sanad dan rijal kuat