Jumat, 20 Februari 2009

Pengantar Ahlul Bait Al Bawazir (Bawazier,Bauzir,Bawazeer, Sebelum hijrah dari Irak Ke Yaman di Kenal dengan Marga Az-Zainabi)

Berkata Amirul Mukminin Sayyid Omar Bin Al-Khatab r.a.: "Pelajarilah nasab kamu supaya kamu dapat menjalin tali kekeluargaan diantara kamu, dan janganlah menjadi seperti kaum Nabat hitam yang jika ditanya salah seorang dari mereka: Dari keturunan siapa kamu? Lalu mereka menjawab: Kami dari kampung itu." Maka demi Allah kiranya ada berlaku sesuatu antara seseorang dengan saudaranya, andainya ia tahu hubungannya dengan saudaranya itu dari hubungan kerabat niscaya hal ini akan menghalanginya dari mencerobohkannya.


Mukadimah

أَعُوْذُ بالله من الشَّيْطَان الرَّجيْم
بِسْم الله الرَّحْمن الرَّحيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

الْحَمْدُ لله وَحْدَه, وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى مَنْ لا نبيَّ بَعْده, وَعَلى أله وَصَحْبه وَمَنْ وَالاه,
أَمَّا بَعْدُ: رَب أَدْخلنيْ مُدْخَل صدق وَأَخْرِجْنِيْ مُخرَجَ صدْق وَاجْعَل ليْ منْ لدُنكَ سُلطانا نصيْرًا

Marilah kita panjatkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah dan senantiasa memberikan karunia-Nya kepada kita sekalian. Sholawat dan Salam kita haturkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Serta salam dan Rahmat kami haturkan pada junjungan nabi Ibrahim As beserta keluarganya.

Maksud dan Tujuan diterbitkannya tulisan ini hanya semata-mata untuk mengenal nasab dari ahli bait khususnya ahlul Bawazir dari keturunan Ibnu Abbas guna meningkatkan akhlak yang mulia dan tetap memperjuangkan kebenaran Islam dan mengenal lebih jauh tali silaturahim diantara keluarga Al- Bawazir dengan seluruh umat.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya, bersabda Rasulullah s.a.w.: "Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, memanjangkan umur dan merelakan Allah". Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Tirmizi dan Al-Hakim

Berangkat dari hadis diatas maka penulis menyusun tulisan ini kedalam bahasa Indonesia dan disarikan dari nasab Al Bawazir Al Abbasiah Al Hasyimiah yang berpusat di Saudi Arabiah ( www.bawazir.com) dan sumber kepustakaan terkait dari berbagai penelitian.

Pendahuluan

Dasar utama mengapa Al Bawazir Al Abbasiah Al Hasimiyah dikatakan keturunan Ahlul Bait ?

Sebelum kita memasuki detail terhadap jawaban diatas kita coba merujuk dari catatan hadist sebagai berikut:

Siapa keluarga Rasulullah SAW ?

Berkata Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari, dan al-Syaukani dalam kitabnya Nail-al-Authar mengenai makna keluarga (al) Muhammad SAW. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna keluarga (al) Muhammad SAW, sebagai berikut:
Pendapat Imam Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, Mujahid, Qatadah, Ibnu Juraij dan Muslim bin Kholid: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan (al) Muhammad SAW adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Hal itu dikarenakan Bani Mutholib dan Bani Hasyim berserikat dalam bagian dzawil qurba, dan Nabi SAW tidak memberi bagian tersebut kepada siapapun dari suku Quraisy, selain kepada mereka. Pemberian itu adalah sebagai ganti, karena mereka diharamkan untuk menerima sedekah. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jubair bin Math’am: Saya berjalan bersama Usman bin affan ke tempat Nabi SAW, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah SAW, engkau telah memberi Bani Mutholib seperlima bagian dari harta rampasan Khaibar dan engkau tinggalkan kami, padahal kami dan mereka sama. Lalu Rasulullah bersabda: “Bani Mutholib dan Bani Hasyim adalah satu.”

Pendapat Abu Hanifah, Malik dan Hadawiyah: mereka adalah Bani Hasyim saja. Dan yang dimaksud dengan Bani Hasyim adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas dan keluarga Harits. Keluarga Abu Lahab tidak termasuk didalamnya, hal tersebut disebabkan tidak ada satupun keluarga Abu Lahab yang beragama Islam pada masa Rasulullah SAW hidup. Akan tetapi dalam kitab Jami’ al-Ushul disebutkan bahwasanya anak Abu Lahab yang bernama Utbah dan Mu’tab masuk islam ketika penaklukan kota Makkah, mereka meninggal dalam perang Hunain dan Thaif.

Kalangan Sufi dan sebagian kaum Sunni menyatakan bahwa Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Muhammad yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Hasan dan Husain) juga keluarga Abbas bin Abdul-Muththalib, serta keluarga-keluarga Ja’far dan Aqil yang bersama Ali merupakan putra-putra Abu Thalib serta keturunan mereka. Adapun risalah lengkap sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut:

Yazid bin Hayyan berkata, "Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam, 'Hai Zaid, kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kau melihat Rasulullah, kau mendengar sabda beliau, kau bertempur menyertai beliau, dan kau telah shalat dengan diimami oleh beliau. Sungguh kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Karena itu, sampaikan kepada kami hai Zaid, apa yang kau dengar dari Rasulullah!'"

"Kata Zaid bin Arqam, 'Hai kemenakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.'"

"Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan, 'Pada suatu hari Rasulullah berdiri dengan berpidato di suatu tempat air yang disebut Khumm antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda, Ketahuilah saudara-saudara bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku (malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yaitu: 1) Al-Qur'an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur'an dan pegangilah. (Beliau mendorong dan mengimbau pengamalan Al-Qur'an). 2) Keluargaku. Aku ingatkan kalian agar berpedoman dengan hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku (tiga kali)".

Husain bertanya kepada Zaid bin Arqam, "Hai Zaid, siapa Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau Ahlul Baitnya?"

Kata Zaid bin Arqam, "Istri-istri beliau adalah Ahlul Baitnya, tetapi Ahlul Bait beliau adalah orang yang diharamkan menerima zakat sampai sepeninggal beliau."

Kata Husain, "Siapa mereka itu?"

Kata Zaid bin Arqam, "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far dan keluarga Abbas."

Kata Husain, "Apakah mereka semua diharamkan menerima zakat?"
Jawab Zaid, "Ya."[1]

Selain hadis-hadis diatas diperkuat oleh hadis –hadis lainnya sebagai berikut:

Di Dalam Firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Syura:23: "Katakanlah (Muhammad) untuk itu Aku tiada meminta upah (bayaran) kepada kamu, (yang Kuminta) hanya kasih sayang terhadap keluarga terdekat"

Pengertian kalimat AL-QURBA (keluarga dekat/kerabat) dalam ayat ini telah ditafsirkan
dalam beberapa hadis seperti berikut:

1. Muslim Ahmad dan Nasa'i telah meriwayatkan dari Zaid Bin Arqam r.a. bahawa katanya: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. sedang berdiri menyampaikan khutbahnya di hadapan kami di suatu tempat bernama Khom yang terletak di antara Mekah dan Madinah, setelah memuji Allah dan memberi peringatan dan nasihat, kemudian baginda bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku adalah basyar (manusia) dan aku tidak lama lagi akan menyahut seruan tuhanku, maka aku tinggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat (As-Thaqalain); pertama kitab Allah Ta'ala yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah kitab Allah itu dan berpeganglah padanya". Lalu beliau menganjurkan supaya memberi perhatian kepada kitab Allah dan menggemarinya kemudian sabdanya: "Dan Ahli Baitku, aku peringatkan kamu terhadap Ahli Baitku, aku peringatkan kamu terhadap Ahli Baitku".
Lalu Husain bertanya, "Siapakah gerangan Ahli Bait baginda wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri baginda adalah Ahli Baitnya?" Jawab beliau, "Isteri-isterinya bukan dari Ahli Baitnya, tetapi Ahli Baitnya ialah mereka yang haram menerima sedekah (zakat) selepasnya. Siapa mereka, tanya mereka?" Jawabnya: "Mereka itu adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Jaafar dan keluarga Al Abbas ra. ."

Al-Hafiz Ibnu Kathir berkata tentang tafsiran ayat ini: "Dan kami tidak mengingkari adanya wasiat terhadap Ahlul Bait dan suruhan berbuat baik kepada mereka, menghormati dan memuliakannya, kerana mereka itu berasal dari zuriat yang suci dari keluarga yang paling suci dan datuk yang paling mulia di atas permukaan bumi dari segala ketinggian, kehormatan dan keturunan".

Kemudian Syafi'e, Baihaqi dan sahabat-sahabat dari mazhab Syafi'e berpendapat bahawa Aali itu adalah Bani Hashim dan Bani Abdul Muttalib kerana sabda Rasulullah s.a.w.: "Sesungguh menerima zakat diharamkan kepada Muhammad dan juga kepada Aali Muhammad", diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: "Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dair yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terhulur menjunam dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhdap keduanya itu", diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

2. Dari Abi Said Al-Khudri r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w berkhutbah di atas mimbar: "Mengapa masih ada sebilangan kaum yang mengatakan bahawa tali kekeluargaan Rasulullah s.a.w tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahawasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung di dunia mahupun di akhirat. Wahai sekelian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh" diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dalam sahihnya, dan Al-Baihaqi dan Tabarani dalam kitab Al-Kabir.

3. Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Telah meninggal dunia seorang puteri Safiah binti Abdul Muttalib r.a. kemudian beliau bercerita yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah s.a.w. berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: "Mengapa masih ada sebilangan kaum yang menuduh bahawa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahawa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung di dunia mahupun di akhirat", hadis ini disahihkan oleh Al-Hafiz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari tiga jalur.

4. Hanya Ahli Bait Nabi s.a.w. saja yang diwajibkan kepada umat Islam mencintainya kerana Allah dan Rasul-Nya. Para ulama telah menetapkan hukum ini dalam kitab-kitab dan karangan-karangan mereka dalam bab itu berdasarkan sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abdul Muttalib Bin Rabi'ah Bin Al-Harith Bin Abdul Muttalib bahawa Al-Abbas Bin Abdul Muttalib r.a. mendatangi Rasulullah s.a.w. dalam keadaan marah sedang saya berada di sisi baginda maka Rasulullah bertanya: "Apa gerangan yang menjadikan kamu marah?". Dijawab, "Ya Rasulullah apa salah kami, mengapa orang-orang Quraish bila bertemu dengan sesama mereka dengan muka manis dan bila bertemu dengan kami tidak demikian?". Lalu marahlah Rasulullah s.a.w. sehingga merah wajahnya kemudian bersabda: "Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, iman itu tidak akan masuk ke dalam hati seseorang sehingga ia mencintai kamu kerana Allah dan Rasul-Nya", seterusnya sabda baginda: Wahai sekelian manusia, siapa mengganggu bapa saudaraku maka telah menggangguku kerana bapa saudara seseorang itu setaraf dengan ayahnya". Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Al-Hakim yang mengatakan hadis hasan sahih riwayat Ahmad dan Al-Hakim serta riwayat yang serupa dari Ibnu Majah dari jalur Muhammad Bin Ka'ab Al-Qardhi dari Al-Abbas r.a. Kemudian Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berhujah dengan hadis ini yang sengaja tidak kami sebut supaya tidak terlalu panjang.

5. Al-Abbas Bin Abdul Muttalib berkata: Telah bersabda s.a.w.: "Mengapa kaum-kaum yang berbincang itu tiba-tiba menghentikan pembicaraannya bila melihat salah seorang dari Ahli Baitku? Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya sesungguhnya iman tidak akan masuk ke dalam hati seseorang sehingga ia mencintainya (Ahli Baitku) kerana Allah dan kerana mereka itu kerabat aku", riwayat Ibnu Majah, Al-Hakim, Ar-Rawiyani, At-Tabarani dan Ibnu Asakir.

6. Dia mengatakan kepada al-Abbas,"Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, iman tidak akan masuk ke dalam dada seseorang hingga dia mencintai Allah dan Rasulnya. Barangsiapa merugikan pamanku berarti telah merugikanku. Paman seseorang adalah seperti ayahnya" (At-Tirmidhi dan Ibn Majah.)

Beliau juga mengatakan kepada al-Abbas, "Masukkan Ali dengan anakmu, pamanku". Kemudian dia mengumpulkan mereka dan menutupi mereka dengan jubahnya, dan berkata, "Ini pamanku ayah dari keduanya dan inilah ahl baitku, maka jagalah mereka dari neraka sebagaimana aku menjaga mereka". Malaikat di pintu dan tembok berkata, "Amien!Amien!" (Al-Baihaqi)

Sebagai pengantar terminology gelar Sayyid , sebenarnya gelar ini adalah consensus Quraish mereka yang masih keturunan Bani Hasyim mempunyai hak atas gelar tersebut. Beberapa kalangan muslim hingga kini masih sepakat dalam penetapan penggunakan gelar Sayyid untuk orang-orang yang masih keturunan Paman Nabi Muhammad SAW yaitu Abu Thalib (Ali, Ja’far,Agil dan Thalib) dan paman Nabi Al Abbas. Dan paman yang lain yaitu Hamzah (syahid pada pertempuran uhud) dan Harits

Dibawah ini adalah Nasab dari Al Bawazir dan menjadi dasar dari pemahaman dari keluarga besar Bawazir dimanapun berada dengan gelar yang disandangnya yaitu berupa Sayyid , Syarif, Syeikh, Wan, Sultan, Amir dan berbagai gelar yang diasimilasikan dengan budaya local namun demikian penamaan dan gelar ini menjadi larut dan banyak tidak digunakan pada generasi belakangan semata-mata hanya karena kesederhanaan dan ketakwaan dimata Allah Swt. Dan semoga Allah TaAllah senantiasa menjaga keturunan dari keluarga Al Bawazir dan selalu membawa kebaikan dan persatuan Umat dan Kejayaan Islam.

[1] AL-ALBANI, M. Nashiruddin; Ringkasan Shahih Muslim. Jakarta: Gema Insani Press, 2005. ISBN 979-561-967-5. Hadist no. 1657